Minggu, 12 Oktober 2014

Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan

Tugas Bulan 1
                             Pendahuluan Etika Sebagai Tinjauan
1. Pengertian Etika
Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. St. John of Damascus (abad ke-7 Masehi) menempatkan etika di dalam kajian filsafat praktis (practical philosophy).
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika)
Menurut para ahli, etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini:
- Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
- Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
- Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini. Etika pada akhirnya membantu kitauntuk mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu kita lakukan dan yangpelru kita pahami bersama bahwa etika ini dapat diterapkan dalam segala aspek atau sisi kehidupan kita, dengan demikian etika ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek atau sisi kehidupan manusianya.

2. PRINSIP-PRINSIP ETIKA.
Prinsip- prinsip perilaku professional tidak secara khusus dirumuskan oleh ikatan akuntan Indonesia tapi dianggap menjiwai kode perilaku akuntan Indonesia. Adapun prinsip- prisip etika yang merupakan landasan perilaku etika professional, menurut Arens dan Lobbecke (1996 : 81) adalah :
a. Tanggung jawab
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional dan pertimbangan moral dalam semua aktifitas mereka.
b. Kepentingan Masyarakat
Akuntan harus menerima kewajiban-kewajiban melakukan tindakan yang mendahulukan kepentingan masyarakat, menghargai kepercayaan masyarakat dan menunjukkan komitmen pada professional.
c. Integritas
Untuk mempertahankan dan menperluas kepercayaan masyarakat, akuntan harus melaksanakan semua tanggung jawab professional dan integritas.
d. Objektivitas dan indepedensi
Akuntan harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari benturan kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profesioanal. Akuntan yang berpraktek sebagai akuntan public harusbersikap independen dalam kenyataan dan penampilan padawaktu melaksanakan audit dan jasa astestasi lainnya.
e. Keseksamaan
Akuntan harus mematuhi standar teknis dan etika profesi, berusaha keras untuk terus meningkatkan kompetensi dan mutu jasa, dan melaksanakan tanggung jawab professional dengan kemampuan terbaik.
f. Lingkup dan sifat jasa
Dalam menjalankan praktek sebagai akuntan public, akuntan harus mematuhi prinsip- prinsip prilaku professional dalam menentukan liingkup dan sifat jasa yang diberikan.

3. Basis Teori Etika
a.  Etika Teleologi
Teologi berasal dari kata Yunani,  telos = tujuan,  berarti mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu, atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
Dua aliran etika teleologi :
- Egoisme Etis
- Utilitarianisme
* Egoisme Etis
Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri.  Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya.  Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadi hedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.
* Utilitarianisme
Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”.   Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja  satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.   Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah “the greatest happiness of the greatest number”, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar.  Utilitarianisme , teori ini cocok sekali dengan pemikiran ekonomis, karena cukup dekat dengan Cost-Benefit Analysis. Manfaat yang dimaksudkan utilitarianisme bisa dihitung sama seperti kita menghitung untung dan rugi atau kredit dan debet dalam konteks bisnis
Utilitarianisme, dibedakan menjadi dua macam :
  1. Utilitarianisme Perbuatan (Act Utilitarianism)
  2. Utilitarianisme Aturan (Rule Utilitarianism)
Prinsip dasar utilitarianisme (manfaat terbesar  bagi jumlah orang terbesar) diterpakan pada perbuatan.  Utilitarianisme aturan membatasi diri pada justifikasi aturan-aturan moral.
b. Deontologi
Istilah deontologi berasal dari kata  Yunani ‘deon’ yang berarti kewajiban. ‘Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai buruk’, deontologi menjawab : ‘karena perbuatan pertama menjadi kewajiban  kita dan karena perbuatan kedua dilarang’. Yang menjadi dasar baik buruknya perbuatan adalah kewajiban. Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.
Ada tiga prinsip yg harus dipenuhi :
(1)   Supaya tindakan punya nilai moral, tindakan ini harus dijalankan berdasarkan kewajiban.
(2)   Nilai moral dari tindakan ini tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu melainkan tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu, berarti kalaupun tujuan tidak tercapai, tindakan itu sudah dinilai baik.
(3)   Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip ini, kewajiban adalah hal yang niscaya dari tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap hormat pada hukum moral universal.
Bagi Kant, Hukum Moral ini dianggapnya sbg perintah tak bersyarat (imperatif kategoris), yg berarti hukum moral ini berlaku bagi semua orang pada segala situasi dan tempat.  Perintah Tak Bersyarat adalah perintah yg dilaksanakan begitu saja tanpa syarat apapun, yaitu tanpa mengharapkan akibatnya, atau tanpa mempedulikan  apakah akibatnya tercapai dan berguna bagi orang tsb atau tidak.
c. Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi  baik buruknya  suatu perbuatan atau perilaku.   Teori Hak merupakan suatu aspek  dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban.   Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran demokratis.
d. Teori Keutamaan (Virtue)
Teori ini memandang  sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan sebagainya. Sedangkan Keutamaan bisa didefinisikan  sebagai berikut : disposisi watak  yang telah diperoleh  seseorang dan memungkinkan  dia untuk bertingkah  laku baik secara moral.
Contoh keutamaan :
  1. Kebijaksanaan
  2. Keadilan
  3. Suka bekerja keras
  4. Hidup yang baik
Keutamaan yang harus menandai pebisnis perorangan bisa disebut : kejujuran, fairness, kepercayaan dan keuletan. Keempat keutamaan ini berkaitan erat satu sama lain dan kadang-kadang malah ada tumpang tindih di antaranya.  Fairness : kesediaan untuk memberikan apa yang wajar kepada semua orang dan dengan wajar dimaksudkan apa yang bisa disetujui oleh semua pihak yang terlibat dalam suatu transaksi.   Keutamaan-keutamaan yang dimilliki manajer dan karyawan sejauh mereka mewakili perusahaan, adalah : Keramahan, Loyalitas, Kehormatan dan Rasa malu. Keramahan merupakan inti  kehidupan bisnis, keramahan  itu hakiki untuk setiap hubungan antar manusia, hubungan bisnis tidak terkecuali. Loyalitasberarti bahwa karyawan tidak bekerja semata-mata untuk mendapat gaji, tetapi mempunyai juga komitmen yang tulus dengan perusahaan. Kehormatan adalah keutamaan yang membuat karyawan menjadi peka terhadap suka dan duka serta sukses dan kegagalan perusahaan. Rasa malu membuat karyawan solider dengan kesalahan  perusahaan.

EGOISME merupakan motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yang hanya menguntungkan diri sendiri. Egoisme berarti menempatkan diri di tengah satu tujuan serta tidak peduli dengan penderitaan orang lain, termasuk yang dicintainya atau yang dianggap sebagai teman dekat. Istilah lainnya adalah "egois"

Kesimpulan : Jadi, dalam kehidupan sehari - hari etika, basis, prinsip, dan egois akan tercipta. oleh sebab itu kita sebagai makhluk sosial sebaiknya kita dapat memilah-memilih dan menjadikan etika sebagai dasar kesopanan terhadap orang lain


                 http://enomutzz.wordpress.com/2011/11/03/etika-sebagai-tinjauan/
                 http://id.wikipedia.org/wiki/Egoisme





Jumat, 10 Oktober 2014

Tulisan Bulan 1

Cerita Anak Generasi #90an


               Hay gue Cindy lahir di tahun 1993 rada kelewat dikit emang gue anggap diri gue anak 90an, karna yang gue tau anak 90an itu kisaran 1990, 1991, 1992, 1993 yang dimana waktu tahun segitu mereka udah lahir dan lagi asik dan seru-serunya nikmatin mainan yang ada.
                   Oke, gue mau cerita aja soal 90an  biarpun agak kelewat dikit sama masa gue tapi gue cukup melihat, merasakn dan menikmatinya di akhir 90an itu berati awal tahun 2000. Ini semua karna lingkungan gue, gue emang anak pertama dari 2 saudara tapi waktu gue kecil gue tinggal dilingkungan yang dimana banyak tetangga-tetangga gue yang menikmati masa itu. Mulai dari musik, cara berpakaian, mainan yang lagi ngetrend masa itu sampe makanan yang emang lagi musim banget masa itu dan masih banyak lagi. Kalo diliat-liat dari masa nya itu lagi trend-trendnya lagu Boys to Boys, Metalica, Britney Spears sampe lagu sehitznya Desi Ratnasari yang Tenda Biru jadi icon sendiri buat anak 90an. Anak 90an mana yang nggak langsung nyanyi-nyanyi iseng. Kalo dari cara berpakainnya itu yang gue inget banget celana cutbray sama celana bahan kodoray dll.
                   Nah kalo permainan lebih banyak-banyak lagi mulai dari tamagoci yang gue inget banget, yang dulu ampe dibawa kesekolah demi ngurus hewan piaraan. Tamia ini nggak kalah lebih seru, kalo dulu lebaran duitnya pasti buat beli mainan ini terus ngadu deh sama temen rumah gamebout juga. Tajoz tau kan yang mana bentuknya yang bulet terus di pinggirannya ada celahnya buat nyambungin ke tajoz yang lain, kalo main ini yang menang tajoz nya buat kita nah kalo yang kalah siap-siap aja berkurang hampir sama kaya kelereng tapi ini permainnya bukan di adu di atas tanah tapi di adu dengan cara disentil. Pelepah pisang ga kalah hitz itu bahan buat mainan tembak-tembakan yang rumahnya dulu masih disekitaran kebon pasti tau. Dulu mah enak Jakarta adem masih banyak pohon pulang sekolah ga langsung pulang maen dulu di kebon, beda ama anak sekarang ngademnya di Mall. Hehe yang jelek jangan ditiru yaa J
                   Komunikasi. Nah, ini nih yang jauh banget bedanya sama sekarang.  Dulu kalo mau telfon temen atau gebetan aja musti nyari wartel dulu. Dulu juga pas nelfon gebetan kalo yang angkat bokap atau nyokap pasti langsung gemeteran karna si doi lagi di panggil hihihi. Mungkin kalo yang dulu punya telfon yang di pakai dengan cara diputer tombolnya mah enak-enak aja.
Jaman gue dulu ga jaman gue juga sih tapi pasti semua lo ngerasain kalo mau main sama temen rumah lo ya gampang-gampang aja  tinggal samper kerumahnya terus main deh, liat siapa aja yang ada dirumahnya temen lo pasti temen yang laen bakalan nyamper. Dulu ga perlu chatingan dulu di grup ngobrol panjang lebar sampee akhirnya nggak jadi pergi karna ada salah satu ada urusan masing-masing.



                                                           
                   Tau dong dulu yang namanya album foto, inget kan lo pada kaya gimana bentukannya, itu yang gede-gede kaya buku tamu kondangan. Sekarang mah beda-beda banget dulu foto cuci langsung cetak taroh album nah kalo sekarang upload dulu facebook ada nama albumnya, upload ke instagram musti pake captionnya biar tau momentnya kapan, dulu pake album foto cukup kasih kertas kecil aja biar inget kapan.
                   Ga perlu namanya ada update status di era itu cukup diary, cukup elo, isi hati lo dan Tuhan yang tau semua gimana cerita hari lo. Sekarang harus mati-matian ngetweet yang dibatesin cuma 140 karakter mana muat men mana muat -____- . Kalo mau nulis reminder juga cukup pake kertas aja atau buku notes yang bisa lo bawa kemana aja, yaa tapi kalo ilang mah resiko. Sekarang nulis reminder gitu bisa di tab atau smartphone lo yang setiap saat bisa lo bawa kapan aja.
                   Mau tau chart musik terbaru lo musti banget namanya chanel MTV tau dong yang mana stasiun tv nya dan acara isinya apa aja. Nah sekarang lo tau sendiri jaman makin lama makin maju, lo mau tau chart musik terbaru gampang tinggal lo download aplikasi shazam di smartphone lo atau buak website billboard disitu udah banyak banget mulai dari  musik sampe artis siapa-siapa aja yang baru ngerilis album baru. Jujur menurut gue pribadi musik yang dulu  lebih bagus pengucapannya dan lirik-liriknya juga lebih bermakna. Kalo mau ngebandingin dulu sama sekarang ya gampang aja pantengin tv deh mulai dari jam 7 nah disitu  ada acara musik pokoknya yaa lo bisa kan menilai sendiri gimana.
                   Ngomongin soal acara tv gue jadi kepikiran acara minggu pagi, udah pada kemana yaa sekarang. Tau kan apa yang aling di annti-nati, yap Doraemon. Ga cuma Doraemon aja sih yang paling laku dulu itu kalo di inget-inget ada Sailormoon, Power Ranger, Power Puff girls, sampe Dragon ball. Untung gue udah gede hehehe jadi udah nikmatin masa itu nontonin masa-masa itu yang dimana masa kecil gue nggak direnggut sama acara musik dan ga perlu sampe marathon film kartun minggu pagi hehe.




                                               
                   Inget ga sinetron apa aja yang dulu, aduuuhhh parah ni gue sumpah ingetan masa-masa itu masih aja keingetan sampe segala sinetron gue hafal hehe. Tapi sinetron yang suka jadi bahan ceng-cengan itu yaa “Noktah Merah Perkawinan” buat lo yang tau soal sinetron ini asli lo ga kalo di bilang tua yaa ketuan hahaha.  Tau film Lupus kan yang dulu di peranin sama Abimana nah ini legend juga kayaknya pas umur segini gue masih 4tahunan kayaknya sih. Jin dan Jun juga ga kalah seru yang di peranin sama Sahrul Gunawan ceritanya soal anak SMA yang punya jin baik dan bisa nolongin kapan aja yang disimpennya di dalem botol yang kadang tiba-tiba bisa nongol tapi jin ini baik. Keluarga cemara nah ini inget kan tagline “Harta yang paling indah adalah Keluarga” ini hitz banget dijamannya dimasa itu. Tapi emang bener  juga tanpa keluarga kita nggak ada apa-apanya apalagi sama orang tua kita sendiri.   Masih banyak lagi sebenernya kalo mau ngulang mesin waktu 90an tapi cukup dulu cerita dari gue.

Sabtu, 21 Juni 2014

Tugas Softskill Bulan ke-4

Tugas Softskill bulan ke 4
Relative Clause
Exercise 37: Relative Clauses page 138
1. The last record which was produced by this company became a gold record.
2. Checking accounts which require a minimum balance are very common now.
3. The professor whom you spoke yesterday in not here today.
4. John whose the highest grades in the school has received a sholarship.
5. Felipe bought a camera which has three lenses.
6. Frank is the man whom we are going to nominate for the office treasurer.
7. The doctor is with a patient whose leg was broken in a accident.
8. Jane is the woman who is to China next year.
9. Jane wants a typewriter.
10. This book which I found last week contains some useful information.
11.Mr. Bryant whose team has lost the game looks very sad.
12. James wrote an article which indicated he disliked president.
13. The director of the program who graduatedfrom Harvard Unversity is planning to retire next year.
14. This is the book which I have been looking for all year.
15. William whose brother is a lawyer wants to become a judge.


Exercise 38: Relative Clauses Reduction page 139
1. George is the man chosen to represent the committe at the conversation.
2. All of the money accepted  has already been released.
3. The papers on the table belong is Patricia.
4. The man brought to the police station confessed  to the crime.
5. The girl drinking coffee is Mary Allen.
6. john wife’s, a professor, has written several papers on this subject.
7. The man talking to the policeman is my uncle.
8.The book on the shelfis the one I need.
9. The number of students counted is is quite high.
10. Leo Evan’s, a doctor, eats in this restaurant every day.



Articles:
Pengertian Relative Pronoun
Relative Pronoun adalah kata ganti untuk membentuk relative clause yang menerangkan noun pada main clause suatu complex sentence. Di dalam relative clause, relative pronoun dapat berfungsi sebagai subject, object, atau possessive dimana pada kata ganti ini tidak ada perbedaan pada number (singular atau plural) maupun gender (male atau female). Kata ganti ini meliputi: who, whom, whose, which, dan that dan indefinite relative pronoun dengan suffix -ever, yaitu: whoever, whomever, & whichever.
Rumus Relative Clause dan Complex Sentence
Relative pronoun merupakan bagian dari relative clause yang tidak dapat berdiri sendiri, melainkan berada di dalam complex sentence. Sedangkan complex sentence merupakan gabungan dari independent clause (kalimat utuh) dan subordinate clause (relative clause). Gambaran lebih jelasnya dapat dilihat pada rumus berikut.
Relative Clause = Relative Pronoun +/- Subject + Verb
Complex Sentence = Independent Clause + Relative Clause
Contoh:
•    Relative pronoun =  that
•    Relative Clause = that I bought last week

Refrensi:
http://www.wordsmile.com/pengertian-penggunaan-dan-contoh-kalimat-relative-pronouns

Minggu, 18 Mei 2014

Tugas Softskill bulan ke-3

Tugas softskill bulan ke – 3
Exercise 35 : Passive Voice
1.  The president is called by somebody everyday.
2.   The other members is being called by John.
3.   Mr. Watson will be called by somebody tonight.
4.  Considerable damage has been caused by the fire.
5. The supplies should be bought by teacher for this class.

Exercise 36: Causative Verbs (Page 135)
1. To leave
2.  Repaired
3. To type
4. To call
5. Painted
6. To write
7. To lie
8. Sent
9. Cut
10.Sign
11. Leave
12. Washed
13. Fixed
14. Published
15. Find


 Pengertian Passive Voice
Passive voice adalah suatu grammatical construction (bentuk gramatikal) dimana subject pada sentence (kalimat) atau clause (klausa) tidak melakukan aksi, melainkan menerima aksi atau ditindaklanjuti (receiver of action) oleh agent lain (doer of action) baik disebutkan ataupun tidak. Sebaliknya, pada konstruksi active, subject pada sentence atau clause berhubungan langsung dengan verb dengan bertindak sebagai pelaku aksi. Kalimat aktif dapat ditransformasi menjadi pasif, namun hanya transitive verb (mempunyai direct object) yang dapat diberlakukan demikian.
Rumus Passive Voice   
S + Auxiliary verb +  past participle


Catatan:
•    Auxiliary verb dapat berupa primary auxiliary verb be (is, are, am, was, were, be, been, being) maupun kombinasi antara dua primary (is/are being, was/were being, has/have been) maupun antara primary dan modal auxiliary verb (will be, will have been).
•    Kombinasi auxiliary digunakan pada bentuk pasif pada tenses. Penjelasan lebih lengkap dapat dilihat di Bentuk Pasif pada Tenses, Infinitive, dan Gerund.
•    Past participle yang digunakan berupa kata kerja transitive (memiliki direct object).
Contoh:
She can’t drive a car. (active voice, transitive), He always come on time. (active voice, intransitive)
•    Perubahan bentuk dari base form ke past tense dan past participle secara regular maupun irregular.
Contoh:
play (base form) —> played (past participle), sing (base form) —> sung (past participle)
Contoh Kalimat Passive Voice pada Auxiliary Verb be:
Komponen    Contoh Kalimat Passive Voice
Subject    be    PP   
I    am    paid    I am paid in dollars.
(Saya dibayar dalam dollar.)
the red velvet recipe    is    used    The red velvet recipe is used by many people.
(Resep red velvet tsb digunakan oleh banyak orang.)
all of my shoes    are    washed    All of my shoes are washed every month.
(Semua sepatu saya dicuci setiap bulan.)
large amounts of meat and milk    are    consumed    Large amounts of meat and milk are consumed by many people in the countries.
(Sejumlah besar daging dan susu dikonsumsi oleh banyak orang di negara-negara tsb.)
the book    was    edited    The book was edited by Beatrice Sparks.
(Buku tsb disunting oleh Beatrice Sparks.)
the books    were    edited    The books were edited by Beatrice Sparks.
(Buku-buku tsb disunting oleh Beatrice Sparks.)

Passive Verb Formation
The passive forms of a verb are created by combining a form of the "to be verb" with the past participle of the main verb. Other helping verbs are also sometimes present: "The measure could have been killed in committee." The passive can be used, also, in various tenses. Let's take a look at the passive forms of "design."
Tense    Subject    Auxiliary    Past
Participle
        Singular    Plural   
Present     The car/cars     is     are     designed.
Present perfect    The car/cars     has been     have been     designed.
Past     The car/cars     was     were     designed.
Past perfect     The car/cars     had been     had been     designed.
Future     The car/cars     will be     will be     designed.
Future perfect     The car/cars     will have been     will have been     designed.
Present progressive     The car/cars     is being     are being     designed.
Past progressive     The car/cars     was being     were being     designed.
               
A sentence cast in the passive voice will not always include an agent of the action. For instance if a gorilla crushes a tin can, we could say "The tin can was crushed by the gorilla." But a perfectly good sentence would leave out the gorilla: "The tin can was crushed." Also, when an active sentence with an indirect object is recast in the passive, the indirect object can take on the role of subject in the passive sentence:

Active    Professor Villa gave Jorge an A.
Passive    An A was given to Jorge by Professor Villa.
Passive    Jorge was given an A.
   
Only transitive verbs (those that take objects) can be transformed into passive constructions. Furthermore, active sentences containing certain verbs cannot be transformed into passive structures. To have is the most important of these verbs. We can say "He has a new car," but we cannot say "A new car is had by him." We can say "Josefina lacked finesse," but we cannot say "Finesse was lacked." Here is a brief list of such verbs*:
resemble     look like     equal     agree with
mean     contain     hold     comprise
lack     suit     fit     become
Verbals in Passive Structures
Verbals or verb forms can also take on features of the passive voice. An infinitive phrase in the passive voice, for instance, can perform various functions within a sentence (just like the active forms of the infinitive).
•    Subject: To be elected by my peers is a great honor.
•    Object: That child really likes to be read to by her mother.
•    Modifier: Grasso was the first woman to be elected governor in her own right.
The same is true of passive gerunds.
•    Subject: Being elected by my peers was a great thrill.
•    Object: I really don't like being lectured to by my boss.
•    Object of preposition: I am so tired of being lectured to by my boss.
With passive participles, part of the passive construction is often omitted, the result being a simple modifying participial phrase.
•    [Having been] designed for off-road performance, the Pathseeker does not always behave well on paved highways.

Refrensi :  http://www.wordsmile.com/pengertian-rumus-dan-contoh-kalimat-passive-voice
                  http://grammar.ccc.commnet.edu/grammar/passive.htm

Sabtu, 12 April 2014

Tugas Softskill Bulan ke-2

Tugas Softskill bulan ke 2
Exercise 33: Because/Because of
1.  Because
2. Because of
3. Because of
4. Because of
5. Because
6. Because
7. Because
8. Because of
9. Because of
10. Because of

Exercise 34:  So/Such
1. So
2. Such
3. So
4. So
5. So
6. Such
7. Such
8. So
9. So
10. Such
11. Such
12. So
13. So
14. So
15. Such



                                                       CAUSE CONNECTORS

Cause connectors are words which give a reason of why something happened.
    Because / Because Of
The cause connector because, when by it self, must always be followed by a clause. Remember that a clause which stands alone is a complete sentence, containing a subject and a verb. The cause connector because of if followed by a noun or noun phrase and does NOT have a verb.
. . . because + subject + verb + subject

. . . because of + noun (phrase)





NOTE: The phrase because of can also be expressed with the phrase due to.
Ralph missed class because the bus broke down.
subject verb

Ralph missed class because of the bus.
noun phrase

Christy was crying because there were spiders.
verb subject

Christy was crying because of the spiders.
noun phrase
The cause clause can also begin the sentence. When this occurs, a comma is used to separate it from the main clause.
Because of the spiders, Christy was crying.

Exercise :    Using Because /Because Of

Fill in the blank with the appropriate form of because or because of.
1. Jack couldn’t go to the game ________Because_________ he had homework.
2. The writer wasn’t able to concentrate ___Because Of_______ all the noise.
3. Nancy had to go to the doctor’s ___________Because_________ her throat hurt.
4. I love to play golf _________Because_________ it relaxes me.
5. John couldn’t play golf with me _________Because_______ his bad back.


    Cause and Effect (So, Such)
Cause and effect relationships are constructed using the following formula.
subject + verb + so + adjective adverb + that + subject + verb


He was so hungry that he ate the entire pizza.
The hill was so steep that Mario couldn’t climb it.
John needed money so badly that he sold his baseball card collection.
The children are playing so intently that they don’t notice it’s raining.
That fire is so hot that it could easily burn you if you get too close.
Intensive modifiers are commonly added to provide extra emphasis. Study the following rules for using intensive modifiers with plural count and non-count nouns.
subject + verb + so +
many
few
+ plural count noun + that + subject + verb


Eric had so many puppies that he gave some away to friends.
My aunt’s health food store had so few customers that she had to close it.
subject + verb + so +
much
little
+ non-count noun + that + subject + verb


She put so much sugar in her coffee that she couldn’t drink it.
Jason spent [u]so[/u] little time on the project that it wasn’t ready for the meeting.
Other forms which are commonly used are such a and such that.
subject + verb + such + a + adjective + singular count noun + that. . .


Ricky had such a bad attitude that he was expelled from school.
Charlotte was such an intelligent student that she was offered a valuable scholarship.
subject + verb such + adjective + plural count noun + that + subject + verb


Tommy has such outstanding skills that he could play professional baseball.
plural count noun

The referees made such bad calls that the fans were very angry.
plural count noun


She had such tarnished silver that she was embarrassed to use it for the reunion.
non-count noun

The burning building had such thick smoke that the firemen had difficulty seeing.
non-count noun
Exercise:    Using So / Such

Fill in the blank with the appropriate form of so or such, using the above formulas.
1. Bill was ___So____ happy about the promotion that he bought everyone lunch.
2. We had _____Such________ expectations for going that we cancelled all appointments.
3. Larry was ____So_______ a good friend that he loaned me his car.
4. The artwork was ______So_______amazing that it won every prize.
5. The earthquake happened at ______So________ an hour that we weren’t expecting it.


Sumber : http://gmatclub.com/forum/gmat-grammar-book-modal-auxiliary-verbs-100606.html

Jumat, 14 Maret 2014

Tugas Softskill bulan 1

Tugas Softskill Bahasa Inggris 2


Exercise 21: Conditional Sentence
Halaman 97-98
1. Uunderstood
2. Wouldn't have been
3. Will give
4. Would have told
5. Would have been
6. Had
7. Would stop
8. Needed
9. Have Found
10. Enjoyed
11. Paints
12. Were
13. Writes
14. Would permit
15. He spent
16. Will accept
17. Bought
18.He decided
19. Would have written
20.Will leaks
21. Studied
22. Hear
23. See
24. Gets
25. Turn
26. Were
27. Wouls have called
28. Would have talked
29. Has explained
30. Were Speak


Exercise 26: Adjective and Adverbs
Halaman 106-107

1. Well
2. Intense
3. Brightly
4. Fluent
5. Fluent
6. Smooth
7. Accurately
8. Bitter
9. Soon
10. Fast

Exercise 27 : Linking (Copulative) Verbs
Halaman 109
1. Terrible
2. Well
3. Good
4. Calmly
5. Sick
6. Quickly
7. Diligently
8. Vehemently
9. Relaxed
10. Noisyly

Exercise 28: Comparisons
Halaman 114
1. As
2. More
3. As
4. More expensive
5. As
6. More talented
7. More colorful
8.Happier
9. Worse
10. Faster

Exercise 29: Comparisons
Halaman 114
1. Than
2. From
3. Than 
4. Than
5. From
6. Than
7. As
8. Than
9. Than
10. From

Exercise 30: Comparisons 
Halaman 117
1. Best
2. Happiest
3. Faster
4. Creamiest
5. More Colorful
6. Better
7. Good
8. Awkwarder
9. Least
10. Prettiest

11. Best


12. Form


13. Less Impressive


14. The sicker


15. When

16. Twice a much as

17. Few

18. Much

19. Farthest

20. More famous 





Kamis, 21 November 2013

Tugas BI = Penulisan ilmiah

penulisan ilmiah

1.  Perhatikan format daftar pustaka pada penulisan ilmiah (Scientific Research). Jelaskan dan berikan contoh untuk masing-masing jenis aturan yang digunakan dalam penulisan ilmiah, contohnya Sistem Harvard, Sistem Harvard Modified, Sistem Vancouver, Sistem Abjad, dan Sistem Nomor Urut.
Jawab :

·         Penulisan Daftar Pustaka Sistem Harvard (author-date style)
            Sistem Harvard menggunakan nama penulis dan tahun publikasi dengan urutan pemunculan berdasarkan nama penulis secara alfabetis. Publikasi dari penulis yang sama dan dalam tahun yang sama ditulis dengan cara menambahkan huruf a, b, atau c dan seterusnya tepat di belakang tahun publikasi (baik penulisan dalam daftar pustaka maupun sitasi dalam naskah tulisan). Alamat Internet ditulis menggunakan huruf italic. Terdapat banyak varian dari sistem Harvard yang digunakan dalam berbagai jurnal di dunia.
Contoh :
Buller, H. and Hoggart, K. (1994a). 'New drugs for acute respiratory distress syndrome', New England Journal of Medicine, vol. 337, no. 6, pp. 435-439.
Buller, H. and Hoggart, K. (1994b). ‘The social integration of British home owners into French rural communities’, Journal of Rural Studies, 10, 2, 197–210.
Dower, M. (1977). ‘Planning aspects of second homes’, in J. T. Coppock (ed.), Second Homes: Curse or Blessing?, Oxford, Pergamon Press, pp.210–37.
Palmer, F. R. (1986). Mood and Modality, Cambridge, Cambridge University Press.
Grinspoon, L. & Bakalar, J.B. (1993). Marijuana: the forbidden medicine, Yale University Press, London
Contoh melakukan perujukan sumber pustaka dalam naskah tulisan :
"Smith (1983) menemukan bahwa tumbuhan pengikat N dapat diinfeksi oleh beberapa spesies Rhizobium yang berbeda”.
"Integrasi vertikal sistem rantai pasokan dapat menghemat total biaya distribusi antara 15% sampai 25 % (Smith 1949, Bond et al. 1955, Jones dan Green 1963)."
"Walaupun keberadaan Rhizobium normalnya mampu meningkatkan pertumbuhan kacang-kacangan (Nguyen 1987), namun telah didapat pula hasil yang berbeda bahkan berlawanan (Washington 1999)."
·         Penulisan Daftar Pustaka Sistem Vancouver (author-number style)
            Sistem Vancouver menggunakan cara penomoran (pemberikan angka) yang berurutan untuk menunjukkan rujukan pustaka (sitasi). Dalam daftar pustaka, pemunculan sumber rujukan dilakukan secara berurut menggunakan nomor sesuai kemunculannya sebagai sitasi dalam naskah tulisan, sehingga memudahkan pembaca untuk menemukannya dibandingkan dengan cara pengurutan secara alfabetis menggunakan nama penulis seperti dalam sistem Harvard. Sistem ini beserta variasinya banyak digunakan dibidang kedokteran dan kesehatan.
Contoh :
(1) Prabowo GJ and Priyanto E. New drugs for acute respiratory distress syndrome due to avian virus. N Ind J Med. 2005;337:435-9.
(2) Grinspoon L, Bakalar JB. Marijuana: the forbidden medicine. London: Yale University Press; 1993.
(3) Feinberg TE, Farah MJ, editors. Behavioural neurology and neuropsychology. 2nd ed. New York: McGraw-Hill; 1997.
(4) Grimes EW. A use of freeze-dried bone in Endodontics. J Endod 1994; 20: 355-6.
(5) Morse SS. Factors in the emergence of infectious disease. Emerg Infect Dis [serial online] 1995 Jan-Mar; 1(1):[24 screens]. Available from: URL: http://www/cdc/gov/ncidoc/EID/eid.htm. Accessed December 25, 1999.
(6) Amerongen AVN, Michels LFE, Roukema PA, Veerman ECI. 1986. Ludah dan kelenjar ludah arti bagi kesehatan gigi. Rafiah Arbyono dan Sutatmi Suryo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 1992. h. 1-42.
(7) Salim S. Pengaruh humiditas dan waktu penyimpanan serta cara curing terhadap sifat fisik, kimia dan mekanik akrilik basis gigi tiruan. Disertasi. Surabaya: Pascasarjana Universitas Airlangga; 1995. h. 8-21.
Contoh melakukan perujukan sumber pustaka dalam naskah tulisan :
"Uraian tentang dampak dari meluasnya flu burung telah disampaikan oleh penulis dalam publikasi yang lain (1). Beberapa penulis lain juga telah membahas secara luas terkait dengan masalah sosial yang berkaitan dengan fenomena tersebut, terutama Lane (2,3) dan Lewis (4). Hasil penelitian dari beberapa sumber menunjukkan bahwa penggunaan obat flu konvensional dalam kasus flu burung dapat berakibat fatal (1,4,5) bahkan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian mendadak (3,6).
Dua sumber bacaan berikut dapat digunakan untuk membantu penguasaan teknik penulisan:
Gunawan AW, Achmadi SS, Arianti L. 2004. Pedoman Penyajian Karya Ilmiah. Bogor: IPB Pr.
2. Kalian temukan dan deskripsikan ketentuan penulisan artikel ilmiah dalam publikasi jurnal ilmiah.

Jawab :
1.      Judul
                                    1Nama penulis pertama
                                    2Nama pen. ulis kedua ..
                        1Alamat penulis pertama (lengkap dgn email)
                        2Alamat penulis kedua (lengkap dgn email)
            Misal : Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Gunadarma
                                    (alamat instansi., bukan rumah) ..
2.      Abstrak (abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, maksimum 250 kata).
3.      Pendahuluan : pendahuluan memuat latar belakang penelitian secararingkas dan padat, dan tujuan. Dukungan  teori  tidak  perlu  dimasukkan  pada  bagian  ini,  tetapi  penelitian  sejenis yang sudah dilakukan dapat dinyatakan.
4.      Metode Penelitian : etode penelitian merupakan prosedur dan teknik penelitian. Antara satu penelitian dengan  penelitian  yang  lain,  prosedur  dan  tekniknya akan  berbeda.  Kalau  tidak berbeda,  berarti  penelitian  itu  hanya  mengulang  penelitian  yang  sudah  ada sebelumnya.   Tapi  bukan  berarti  harus  berbeda  semuanya.  Untuk  penelitian  sosial misalnya, populasi penelitian mungkin saja sama, tapi teknik samplingnya berbeda, teknik  pengumpulan  datanya  berbeda,  analisis  datanya  berbeda,  dan  lain.lain. Mohon diuraikan dengan jelas, bukan hanya mengopi dari penelitian lain. Kalau mau disertakan  penelitian  yang  dilakukan  termasuk  ke  dalam  kategori  penelitian  yang mana, mohon diperhatikan dengan baik, jangan asal mengopi. Bagian ini bisa dibagi menjadi beberapa sub bab, tetapi tidak perlu mencantumkan penomorannya.
5.      Pembahasan : bagian  ini  memuat  data  (dalam  bentuk  ringkas),  analisis  data  dan  interpretasi terhadap hasil. Pembahasan dilakukan dengan mengkaitkan studi empiris atau teori untuk interpretasi. Jika dilihat dari proporsi tulisan, bagian ini harusnya mengambil proporsi  terbanyak,  bisa  mencapai  50%  atau  lebih.  Bagian  ini  bisa  dibagi  menjadi beberapa sub bab, tetapi tidak perlu mencantumkan penomorannya.
6.      Penutup : bagian ini memuat kesimpulan dan saran. Kesimpulandan saran dapat dibuat dalam sub  bagian  yang  terpisah.   Kesimpulan  menjawab  tujuan,  bukan  mengulang  teori, berarti  menyatakan  hasil  penelitian  secara  ringkas  (tapi  bukan  ringkasan pembahasan).   Saran  merupakan  penelitian  lanjutan  yang  dirasa  masih  diperlukan untuk  penyempurnaan  hasil  penelitian  supaya  berdaya guna.   Penelitian  tentunya tidak selalu berdaya guna bagi masyarakat dalam satu kali penelitian, tapi merupakan rangkaian penelitian yang berkelanjutan.
7.      Daftar Pustaka : bagian  ini  hanya  memuat  referensi  yang  benar-benar  dirujuk;  dengan  demikian, referensi  yang  dimasukkan  pada  bagian  ini  akan  ditemukan  tertulis  pada  bagianbagian sebelumnya. Sistematika penulisannya adalah:
ü  Menurut abjad
ü  Tidak  perlu  dikelompokkan  berdasarkan  buku,  jurnal, koran,  ataupun berdasarkan tipe publikasi lainnya. 
ü  Sistematika penulisan untuk buku: nama penulis (kata terakhir lebih dahulu, lalu nama pertama dan seterusnya). Tahun publikasi.  Judul buku. Penerbit, kota.
ü  Sistematika penulisan untuk jurnal: nama penulis (kata terakhir lebih dahulu, lalu nama pertama dan seterusnya). Tahun publikasi. “Judul tulisan.”  nama jurnal. Volume, nomor. Penerbit, kota. 
ü  Sistematika  penulisan  untuk  skripsi/tesis/disertasi:  nama  penulis  (kata terakhir lebih dahulu, lalu nama pertama dan seterusnya). Tahun lulus.  Judul skripsi/tesis/disertasi. Penerbit, kota.
ü  Sistematika penulisan untuk artikel dari internet:  nama penulis (kata terakhir lebih dahulu, lalu nama pertama dan seterusnya). Tanggal, bulan, dan tahun download.  Judul tulisan. Alamat situs.
ü  Sistematika penulian untuk artikel dalam koran/majalah: nama penulis (kata terakhir lebih dahulu, lalu nama pertama dan seterusnya). Tanggal, bulan dan tahun publikasi. “Judul tulisan.”  Nama koran.  Penerbit, kota.
Aturan Penulisan
- Tulisan merupakan hasil penelitian
- Tulisan ilmiah menggunakan bahasa Indonesia baku, setiap kata asing dicari
padanannya dalam bahasa Indonesia baku, dan tidak perlu menyertakan
bahasa asingnya.
- Kalimat yang diambil dari tulisan ilmiah dalam bahasa asing diterjemahkan
dalam bahasa Indonesia baku.
- Referensi menggunakan aturan author, date hanya mencantumkan nama
belakang penulis dan tahun tulisan (contoh: Kotler, 2000) dan mohon dicek
ulang dengan daftar pustaka (sangat membantu jika menggunakan fasilitas
bibliography yang ada di word processor)
- Tidak menggunakan catatan kaki
- Tulisan ilmiah dikirimkan dengan format:
o Ukuran kertas yang digunakan ukuran A4
o Panjang tulisan minimum 10 halaman
o Margin keliling 1” atau 3cm
o Spasi 1.5
o Dalam bentuk 1 kolom (standar, tidak perlu dibuat kolom)
o Huruf Times New Roman, ukuran 12
o Semua jenis rumus ditulis menggunakan Mathematical Equation (bagi
pengguna MS Word ada di bagian Insert => Equation), termasuk
pembagian/fraksi, Zigma, Akar, Matriks, Integral, Limit/Log,
Pangkat, dsb
o Semua jenis simbol menggunakan simbol standar yang ada di Word
Processor (bagi pengguna MS Word ada di bagian Insert => Symbol)
o Judul tabel dan gambar ditulis di tengah, title case, dengan jarak 1
spasi dari tabel atau gambarnya. Tulisan “Tabel” atau “Gambar”
dengan nomornya diletakkan satu baris sendiri. Judul tabel diletakkan
di atas tabel (sebelum tabel) dan judul gambar diletakkan di bawah
gambar (setelah gambar). Penulisan sumber tabel atau gambar
diletakkan di bawah tabel dan gambar (center pada gambar dan sejajar
tabel pada tabel dengan huruf 10 pt). Pada gambar, penulisan sumber
diletakkan setelah judul gambar dengan jarak 1 spasi. Tulisan dalam
tabel 10 pt.
3. Jelaskan, jika sumber informasi berupa buku atau majalah, data apa saja yang harus dicantumkan sesuai dengan cara yang berlaku?

Jawab :
·         Buku
Contoh dalam Daftar Acuan:
Keates, J.A. 1973. Cartographic Design and Production. London: Longmans.
Vanclay, F., and D. Bronstein. 1985. Environmental and social impact assessment. New
York: Wiley & Sons
McCafrey, R., Y.Bock, and J.Rais. 1990. Crustal deformation and oblique plate convergence
in Sumatera. Eos.Trans. 71: 637
Catatan: Dalam Daftar Acuan tidak diperkenankan memakai et al. artinya “et alii” artinya “dan lainlain”.
Semua nama penulis atau kontributor pada penulisan tersebut ditulis dalam Daftar Acuan, sesuai
aturan baku. Hanya dalam teks, dapat dipakai et al. jika penulis lebih dari dua orang, di belakang nama penulis pertama yang merupakan entry dalam Daftar Acuan.
Dalam teks mengacu pada contoh sumber informasi di atas ditulis sebagai berikut:
(Keates 1973)
(Vanclay & Bronstein 1985)
(McCafrey et al. 1990)
Perhatikan “et al.” ditulis selalu dengan huruf italic (miring) dan setelah “al” diikuti dengan titik,
karena ini kependekan dari “alii” (artinya: “and others”, “dan lain-lain”). “et” artinya “dan” atau dalam bahasa Inggeris “and” sehingga tidak diikuti dengan titik (bukan kependekan) Kalau para penulis adalah editor, bukan yang menulis sendiri, maka di tambah di belakang nama atau nama-namanya dengan singkatan ed. (artinya “editor”), contoh 1), atau dalam tanda kurung (contoh 2) sebelum menulis angka “tahun” penulisan. Dalam bahasa Inggeris dipakai Eds. jika editornya lebih dari satu orang. (Editors)
Kata ed atau eds ditulis dengan huruf miring
Contoh: White, A.T., P.Martosubroto, and M.S.M. Sadorra. eds. 1989. atau
White, A.T., P. Martosubroto, and M.S.M. Sadorra (eds). 1989.
·         Bab dari Buku atau salah satu topik dalam Prosiding
Contoh:
Rabben, E.L. 1990. Fundamentals of Photo Interpretation. Dalam: Manual of Photographic
Interpretation. Colwell, R. ed. Virginia: Americam Society of Photogrammetry. pp. 117-149
Artinya: Penulis mengacu kepada tulisan E.L.Rabben dalam Bab: Fundamentals of Photo Interpretation, yang merupakan salah satu Bab buku Manual of Photo Interpretation, yang di-edit oleh Colwell. Bab tersebut berada dari halaman 117 sampai dengan 149.
Contoh:
Bergin, A, and D. Lawrence. 1993. Aboriginal and Torres Strait Islander Interests in the Great
Barrier Reef Marine Park. In Proceeding turning the tide: Indigenous sea rights. Townville:
Northern Territory University Law School
Penjelasan: Penulis mengacu pada tulisan A.Bergen dan D.Lawrence yang berjudul “Aborigin and Torres Strait Islander Interest in the Great Barrier Marine Park”. Tulisan ini berada dalam satu Prosiding dari Konperensi International yang diorganisir oleh Northern University Law School dengan topik “Turning the Tide: Indigenous Sea Rights”, yang diterbitkan pada tahun 1993.
·         Majalah Terbitan Berkala
Majalah terbitan berkala memiliki identifikasi : Nama Majalah,, Volume (Isi) dan Nomor Urut untuk setiap Volume, dan keteraturan terbitan, seperti bulanan (monthly) dengan 12 nomor/volume, kuartalan (quarterly) dengan 4 nomor/volume dan dua-bulanan (bi-monthly) dengan 6 nomor/volume. Untuk sumber dari majalah, Volume, Nomor dan nomor halaman-halaman di mana tulisan itu dikutip, ditulis sebagai berikut:
Vol. XIX, Nomor 6, pp.245-249. Bagi majalah di mana nomor halaman berjalan dari awal volume (misalnya awal volume XIX No.1), maka nomor volume tidak ditulis lagi.
Misalnya Vol.XIX: 245-249
Nomor Volume dapat juga berupa nomor arab. Misalnya Vol.19: 245-249
Jika nomor halaman selalui dimulai pada setiap nomor dari tiap volume, maka nomor majalah perlu ditulis.
Misalnya: 10 (3): 24-28, artinya Volume 10, Nomor 3, halaman 24-28
Dalam Chicago style, nama kota tidak ditulis lagi bagi journal yang telah mendunia, karena para
ilmuan yang terkait telah mengetahuinya. Bagi journal yang tidak terkenal atau terkenal terbatas ,
maka nama kota ditulis sesudah nomor volume, nomor majalah dan halaman di mana informasi berada dengan tanda baca “titik“ kemudian nama kota, diakhiri dengan tanda baca “titik-dua” dan nama pernerbit dari majalah tersebut.
Contoh: 10 (3): 24-28. Jakarta: Ikatan Surveyor Indonesia
Dalam bibliografi internasional juga dibakukan penulisan akronim dari journal tersebut dan akronim baku ini dipakai dalam daftar acuan. Lihat contoh-contoh di bawah ini: 33 Contoh ini diambil dari Journal “Marine Geodesy” yang mensyaratkan Chicago Style dipakai untuk penulisan ilmiah dalam Chicago Style.
1. Currie, R.G. 1974. Solar cycle signal in surface air temperature. J.Geophys.Res. 79:567- 5600
2. Chen, G., and R.Ezraty. 1999. Variations of southern ocean sea level and its possible relation
with Antarctic sea ise. Int. J. Rem. Sens. 20(1): 31-47
3. Brwon, W., W.Munk, F.Snodgrass, H.Mofjeld, and B.Zetler. 1975. Mode bottom experiment.
J. Phys. Oceano. 5:75-85
4. Brigham, E.O. 1973. The fast Fourier transform. New York:Prentice-Hall
5. Bendat, J.S., and A.G.Piersol. 1986. Random Data: Analysis and measurement procedures (2nded. rev. and expanded). New York: John Wiley & Sons
Analisis dari daftar acuan tersebut di atas: 4
No. 1: J.Geophys.Res. adalah akronim baku dari Journal of Geophysical Research dan ditulis dengan huruf miring (italic). Volume di mana tulisan itu dimuat adalah volume 79 dengan nomor urut 567-5600. Judul tulisan ditulis denga huruf kecil kecuali kata awal dengan huruf besar.
No.2 : Ada 2 penulis dan kata “and” di awali dengan koma (ini dalam bahasa Inggeris) dalam bahasa Indonesia saya usul tanpa koma dulu. Int. J. Rem Sens. Adalaj akronim baku untuk International Journal on Remote Sensing. Antarctic pakai huruf besar karena ini nama diri dari kutub selatan. 20(1):31-47 berarti volume 20 nomor 1 dan halaman 31 s/d 47. Ini berlaku untuk majalah-majalah yang nomor urutnya selalui dimulai dengan halaman 1 setiap nomor dalam volume tersebut.
No.3: J.Phys. Oceano. adalah singkatan baku dari Journal of Physical Oceangography. Volume 5
nomor urut 75 s/d85
No.4: Kalau contoh no. 1, 2 dan 3 tidak tercantum nama kota dan nama penerbitnya karena journal journal ini telah tercatat dalam daftar journal-journal terakreditasi dan dicatat dalam bibliografi internasional.
Dalam contoh No.4 adalah untuk buku. Judul buku ditulis dengan huruf miring dan Fourier dimulai dengan huruf besar karena ini berasal dari nama orang. Contoh nama penerbit dan kota di mana buku diterbitkan ditulis dengan nama kota diikuti tanda baca titik-dua dan nama penerbit. Nama negara sudah tidak dicantumkan lagi karena Prentice Hall sudah dikenal secara internasional. Bagi Indonesia, di mana majalah nasional kita belum tercatat dalam bibliografi internasional, sebaiknya nama majalah ditulis secara lengkap. Juga ditulis nama kota di mana majalah dan buku yang dikutip tersebut diterbitkan
Contoh:
Pomeroy, R.S. 1995. Community-based and co-management institutions for sustainable
coastal fisheries management in Southeast Asia. Ocean & Coastal Management 27(3): 143-
162.
Dengan kata lain, makalah R.S.Pomeroy dengan judul “Community-based and co-management
institutions………..” berada dalam majalah Ocean & Coastal Management, Volume 27, No.3, dan berada pada halaman 143 – 162. Antara Management dan 27 (3) tidak diberi titik
Bock,Y., R. McCaffrey, J. Rais, and I. Murata. 1990. Geodetic studies of oblique plate
convergence in Sumatera. Eos Transaction 71: 857.
Keterangan: Eos Trans adalah akronim dari Earth Observation Systems Transaction, adalah publikasi berkala, Volume 71, halaman 857.
.
Sumber :

http://pardede.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/19064/Aturan+Penulisan+Artikel+Jurnal+Ilmiah+UG.pdf. Diakses pada hri rabu 20 november 2013 pukul 21.30
  Panduan PKMI.  
http://setia.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/7837/panduanPKMI.pdf. Diakses pada tanggal 18 November 2013 Pukul 17.27 ·         http://edi_mp.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/20476/Tata+Cara+Penulisan+Pustaka. Tata cara penulisan pustaka diakses pada tanggal 18 November 2013 pukul 16.35